Minggu, 23 Desember 2012

Review 3: HASIL DAN PEMBAHASAN




PENGARUH VARIABEL ASET LANCAR, DEBT TO TOTAL ASSETS, UMUR,  DAN JUMLAH ANGGOTA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN KOPERASI KREDIT  DI KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG: SEBUAH PEMODELAN EKONOMETRIKA

Putu Agus Ardiana  Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Luh Kartini Eka Sari  Jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Penelitian ini dilakukan dengan memasukan 18 variabel bebas yang diduga mempengaruhi rentabilitas ekonomi. Setelah dilakukan 15 kali pemodelan maka didapatkan model yang bersifat BLUE. Model ke-15 kali merupakan model yang BLUE karena memenuhi tujuh asumsi klasik seperti yang disyaratkan oleh studentmund (2006). Berdasarkan pengujian ramsey test untuk asumsi kalsik yang pertama sampai dengan asumsi yang ketiga diperoleh p-value untuk statisticnya adalah 0.545391 lebih besar dari pada level of significance yang di tentukan sebesar 0.05 sehingga HO (model is not misspesifield owing to wrong functional form) diterima. Uji asumsi klasik yang ke-4 adalah autokorelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson, Breusch-Godfrey Serial Correlation LM lest, dan collelogram of residuals tets. Dari ketiga pengujian yang dilakukan, dua pengujian menyatakan tidak terjadi autokorelasi reidual model ke-15, sedangkan satu pengujian (Durbin-Wtson) tidak dapat memutuskan terjadi tidaknya autokorelasi residul model ke-15. Denagan adanya demikian, dapat disimpulakan bahwa tidak terjadi autokorealsi pada residul model ke-15.

            Pengujian asumsi klasik yang kelima ini dilakuakn melalui white’s heteroskedasticity test. Berdasarkan ted ini diperoleh probality (p-value) f-statistic-nya adalah 0.842423, lebih besar dari pada level of significance 0.05 sehingga HO (errors are homekedastic)di terima (studentmund,2006). Asumsi klasik yang keenam berkaitan dengan multikolinearitas. Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas pada suatu model regresi adalah dengan melihat VIF (Variance Inflation Factor). berdasarkan tabel output model 15 didapatkan nilai R2-nya adalah di bawah 1, yaitu sebesar 0.73030862 sehingga nilai VIF-nya menjadi 3.71 nilai VIF sebesar 3,71 ini tidak mencerminkan terjadinya perfect multicolinearity. Nilai VIF SEBESAR 3,71 ini lebih kecil daripada 5 maka dapat diartikan bahwa tidak terjadi multicollinearity pada model 15 ini. Uji asumsi klasik yang ketujuh ini dilakukan dengan jarque –bera normality test (JBTS). Berdasarkan output uji ini diperoleh probality-nya (p-value) adalah 0.008495, lebih kecil dari pada level of significance 0.05 sehingga HO (errors are nomally distributed) ditolak. Meskipun berdasarkan pengujian jarque-bera normality test (JBTS) disimpulkan bahwa residual modal ke-15 tidak terdistribusi normal, residual model ini dapat di anggap terdistribusi normal (rsidual is approximately normally distributed) karena jumlah observasi lebih besar dari pada 30 (central limit theoren)  (studenmund, 2006).

            Dari output ke-15 ini didapatkan model regresi sebagai berikut.

Y      = βo+ βX  + βX  + βX  + βX  + ε
  i             1  1     2  2    3  3     4  4     i

Y      = 0.087828 + 1.15E-11 X  – 0.070966 X  – 0.005381 X  – 5.53E-05 X  + ε
  i                                    1                  2                 3                  4     i

thit  =                6.332969       (4.165571)      (5.413087)         (6.919911)
Sig    =               0.0000         0.0002          0.0000          0.0000

R2    =   0.730862
F-statistik    =  20.36676
Prob(F-statistik) =      0.000000

Keterangan:

Yi       = Rentabilitas ekonomi
βi      = Koefisien regresi
X1       = Variabel bebas aset lancar
X2       = Variabel bebas debt to total assets
X3       = Variabel bebas umur
X4       = Variabel bebas jumlah anggota
εi      = Error term (residuals)

Dari tabel output di atas diperoleh probality (p-value) F-stasistic sebesar 0.000000 nilai ini lebih kecil dari pada level of significance yang ditentukan sebesar 0.05 sehingga HO di tolak. Dengan kata lain keempat variabel bebas ( aset lancar, debt to total assets, umur, dan jumlah anggota) berpengaruh serempak terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan kredit di kecamatan buleleng.

            Persamaan regresi modal ke-15 yang terdiri atas empat variabel bebas tersebut adalah:

Y      = βo + β1X  + β2X  + β2X  + β4X  + ε
  i                 1        2        3        4     i

Y      = 0.087828 + 1.15E-11 X  – 0.070966 X  – 0.005381 X  – 5.53E-05 X  + ε
  i                                   1                 2                  3                 4     i

Thit  =                 6.332969          (4.165571)         (5.413087)         (6.919911)
Sig    =                0.0000            0.0002             0.0000             0.0000
R2    =   0.730862
F-statistik    =  20.36676
Prob (F-statistik) =     0.000000

Keterangan:

Yi       = Rentabilitas ekonomi
βi      = Koefisien regresi
X1       = Variabel bebas aset lancar
X2       = Variabel bebas debt to total assets
X3       = Variabel bebas umur
X4       = Variabel bebas jumlah anggota
εi      = Error term (residuals

            Mengigat p-value untuk variabel bebas aset lancar adalah 0.00000 lebih kecil daripada 0.05 (level of significance) dan tanda dari koefisien regresi adalah positif maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas aset lancar berpenagruh positif terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit di kecamatan buleleng. Berdasarkan struktur aset lancar dari tujuh koperasi menjadi samp[el dalam penilitian ini selama periode 2005 sampai dengan 2009, proporsi terbesar dari aset loancar adalah piutang yang berasal dari pemberian kredit (pinjaman yang di salurkan). Semakin besar pinjaman yang dapat disalurkan berarti menyebabkan bertambahnya pendapatan yang diterima koperasi yang bersal dari pendapatan bunga karena pi8njaman yang dapat di salurkan  ini merupakan income-generating assets.

            Variabel bebas debt to total assets berpengaruh negatif terhadapap entabilitas ekonomi di koperasi simpah pinjam dan kredit di kecamatan buleleng karena p-value adalah 0.0002, lebih kecil dari pada 0.05 (level of significant) dan tanda dari koefisien regresi adalah negatif. Meningkatkan debt to total assets disebabkan oldeh meningkatnya total uang (debt) dan meningkatnya total assets . menurut brigham dan houstan (2004), tingkat leverage operasi yang tinggi memiliki kosekuensi bahwa perubahan pendapatan dalam jumlah yang relatif kecil akan mengakibatkan perubahan yang besar dalam prifitabiltas. Lebih lanjut lagi brigham dan houston menjelaskan bahwa entitas yang meningkatkan utangnya dan menkosengtrasikan risiko bisnisnya kepada para pemilik. Dengan denikian, dapat sisimpuulkan  bahwa terhadap hubungban positif antara leverage dan profitabilitas. Dari tujuh koperasi yang menjadi sampel dalam penilitian,

                          

     Lagi Brigham danHouston menjelaskan bahwa entitas yang meningkatkan utangnya akan mengkonsentrasikan risiko bisnisnya kepada     para   pemilik. Dengan demikian, dapat di simpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara leverage dan profitabilitas. Dari tujuh koperasi yang menjadi sampel dalam penilitain ini selama periode 2005 sampai dengan 2009, terlihat bahwa penigkatan hubungan sukarela lebih besar daripada peningkatan pinjaman yang dilakukan oleh koperasi sehingga debt to total assets-nya meningkat. Menurut jensen (1986), utang memainkan peran penting dalam memotivasi manajer untuk meningkatkan efisien organisasdi dan rasio utang yang optimal diperoleh ketika tambahan manfaat (marginal benefit) dari utang tersebut sama dengan tambahan biayanya. Pendapat jensen (1986) ini melengkapi pendapat yang diungkapkan oleh brigham dan houtson (2004) bahwa pada rage tertentu yaitu pada saat marginal benefit lebih besar daripada marginal cost, profitabilitas meningkat sampai titik tertentu seiring denagn meningkatnya utang. Akan tetapi, profitabilitas menurun seiring dengan meningkatnya utang pada saat margianl cost lebih beasr daripada marginal benefit. Semakin menegaskan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam. Dan koperasi kredit di kecamatan Buleleng.




Nama/NPM  : Nurul Rochmah/25211407
Kelas/tahun  :2EB09/2012

Review 2: METODE PENELITIAN



PENGARUH VARIABEL ASET LANCAR, DEBT TO TOTAL ASSETS, UMUR,  DAN JUMLAH ANGGOTA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN KOPERASI KREDIT  DI KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG: SEBUAH PEMODELAN EKONOMETRIKA

Putu Agus Ardiana  Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Luh Kartini Eka Sari  Jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

METODE

Metode Penentuan Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah kopersai simpan pinjam dan koperasi kredit di kecamatan buleleng yang terdaftar di Dinas Koperasi, perindustrian, dan perdagangan kabupaten buleleng, aktif sampai dengan tahun 2010 dan mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) sampai dengan maret 2010, serta menerbitkan laporan keuangan secara lengkap dari tahun 2005 sampai 2009. Dalam penelitian ini di peroleh sempel sebanyak tujuh koperasi yang terdiri atas enam koperasi simpan pinjam (KSP) dan satu koperasi kredit. Periode pengamatan adalah lima tahun, yaitu dari tahun 2005 sampai dengan 2009. Berikut adalah daftar nama koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit menjadi sampel.

            Tabel 1 kopearsi simpan pinjam yang menjadi sampel

No                   Nama koperasi sampel                 Alamat

1          KSP Lintas Desa Pada Payu          Banyuning
2          KSP Dana Mukti                              B I N. Banyuning Indah
3          KSP Eka Karya Utama                   Jl. Veteran No.11
4          KSP Artha Guna Bhakti                 Jl. Gunung Agung Gang 3
5          KSP Ganesha Studi Group           Jl. Bekisar No. 1 Singaraja
6          Kopdit Swastiasnu                         Jl. Laksaman, Bhakti Seraga
7          KSP Citra Komunikasi Mandiri    Banjar Bali

Sumber :  Dinas  Koperasi, Perindustrian,  dan  Perdagangan  Kabupaten Buleleng (2010)

Teknik Analisis Data

            Teknik analisis data yang digunakan dalam penilitian ini adalah analisis regresi linear berganda (multiple linear regression analysis) dengan metode OLS (ordinary least square).

Analisis Regresi Berganda

            Model Model analisis regresi berganda ditunjukkan oleh persamaan

Y      = β + βX  + βX  + βX  + βX  + ε
  i       o      1  1    2  2     3  3     4  4     i

Keterangan:

Yi       = Rentabilitas ekonomi
βi      = Koefisien regresi
X1       = Variabel bebas aset lancar
X2       = Variabel bebas debt to total assets
X3       = Variabel bebas umur
X4       = Variabel bebas jumlah anggota
εi      = Error term (residuals)


Uji Asumsi Klasik

            Model regresi yang BLUE adalah model regresi yang tidak melanggar tujuh asumsi klasik sebagaimana disyaratkan oleh studenmund (2006), yaitu (1) the regression model is linear, is correctly speciatied, and has an additive error term, (2) the error term has a zero population mean, (3) all explanatory variables are uncorrelated with the error term, (4) observation of the error term are uncorrelated with each other (no serial correalation), (5) the error term has an costan variance (no heterokedasticity), (6) no explanatory variable is aperfect linear function of any other explanatory variable. (7) the error term is normally distributed (this assumption is optional but usually is invoked).
Penguji serempak (uji F)

            Uji F menguji pengaruh serempak variabel-variabel bebas terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit di kecamatan buleleng.
Uji parsial (uji t)

            Uji t diguanakan untuk menentukan pengaruh parsial variabel-variabel bebas (x) terhadap variabel terikat (y). Pengujian dilakukan deangan cara membadingkan p-value uji t denagn tafar signifikansi 5 persen.

                           
Nama/NPM  : Nurul Rochmah/25211402
 Kelas/tahun :2EB09/2012

Review 1: ABSTRACT DAN PENDAHULUAN


PENGARUH VARIABEL ASET LANCAR, DEBT TO TOTAL ASSETS, UMUR,  DAN JUMLAH ANGGOTA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN KOPERASI KREDIT  DI KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG: SEBUAH PEMODELAN EKONOMETRIKA

Putu Agus Ardiana  Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Luh Kartini Eka Sari  Jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

BAB I PENDAHULUAN

1.1  ABSTRACT

This paper aims to investigate independent variables affecting profitability of cooperatives in Buleleng, Bali proxied by a ratio of earnings and total assets through an econometric modeling.We   initially identified 18 variables affecting the ratio but we then dropped a number of independent variables insignificantly affecting the ratio. Conducting 15 modelling,  the last econometric model is   a BLUE (Best Linear Unbiased Estimators)model implying that the model has no classical assumptions  problems at all. The BLUE model suggests that independent variables affecting profitability of cooperatives in Buleleng, Bali are curren assets, debt to total assets, age and the number of  member of cooperatives.

Keywords : Cooperatives, Profitability, Current Assets, Debt to Total Assets, Age, and The Number of Members of Cooperatives

1.2.  PENDAHULUAN

Salah satu masalah makroekonomi yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah masih banyaknya      penduduk miskin.  Penduduk  miskin adalah penduduk yang mengkonsumsi kalori kurang dari 2.100 per kapita dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar (Panggabean,2004). Data     Badan Pusat Statistik (BPS, 2010) menunjukkan bahwa jumlah 1 penduduk miskin sampai dengan Maret 2009 mencapai 32,53 juta, 36,61% di antaranya (11,91   juta orang) tinggal di perkotaan dan 63,39% (20,62 juta orang) tinggal di pedesaan. Di sisi lain   tingkat pengangguran terbuka juga masih tinggi, yaitu mencapai 9,26  juta per Februari 2009. Data ini menunjukkan bahwa semua sektor kekuatan ekonomi termasuk koperasi belum berperan melaksanakan fungsi dan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan, mempertinggi kualitas  kehidupan, serta memperkokoh perekonomian rakyat secara bersama melalui wadah koperasi. Jumlah koperasi pada tahun 1997 adalah 52.458 unit, sedangkan pada tahun 2009 per Juni  meningkat menjadi 166.155 unit. Dari 52.458 unit koperasi pada tahun 1997, 32.900 unit merupakan koperasi aktif dan 13.258 unit merupakan koperasi tidak aktif. Sebaliknya, yang terjadi per Juni 2009 adalah 118.616 unit dari 166.155 unit merupakan koperasi aktif dan 47.539 unit merupakan koperasi tidak aktif. Selain jumlah koperasi yang meningkat, jumlah anggota juga mengalami  peningkatan  sebesar 8.698.61 3orang. Demikian pula dengan volume usaha yangmeningkat dari Rp14.643.545,00 pada tahun 1997 menjadi Rp55.260.796,96 per Juni 2009. Rentabilitas   suatu  entitas menunjukkan  perbandingan antara  laba dengan aset atau modal yang menghasilkan laba tersebut (Riyanto,2001). Rasio rentabilitas lebih informatif daripada laba yang dilaporkan karena rasio rentabilitas menunjukkan tingkat efisiensi (sekaligus produktivitas) suatu entitas. Entitas dengan tingkat efisiensi (dan produktivitas) yang tinggi diindikasikan dengan lebih banyak output yang dihasilkan dari  input tertentu atau lebih sedikit input yang digunakan untuk menghasilkan output tertentu (Guan,  Hansen, dan Mowen, 2009). 

Dengan demikian,  maka yang harus diperhatikan oleh koperasi adalah memberdayakan aset yang terbatas untuk mencapai sisa hasil usaha (SHU) yang maksimal. Semakin tinggi tingkat rentabilitas   suatu entitas maka semakin tinggi tingkat efisiensi penggunaan modalnya. Dalam penentuan kebijakan modal kerja yang efisien, entitas dihadapkan pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas (Van Horne, 1997). Jika entitas memutuskan  menetapkan  modal  kerja dalam jumlah  yang besar, kemungkinan  tingkat  likuditas   akan terjaga. Namun, kesempatan untuk memperoleh laba yang besar akan menurun yang pada    akhirnya akan berdampak terhadap penurunan profitabilitas. Jika dipandang dari sudut pemilik     entitas, likuiditas yang tinggi  tidak selalu menguntungkan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek       yang menguntungkan entitas (Tunggal, 1995). Struktur aset sangat berpengaruh terhadap     besarnya laba yang dihasilkan. Apabila proporsi aset terbesar  adalah piutang dari penyaluran kredit, maka piutang dari penyaluran kredit (kategori lancar atau performing loans)akan meningkatkan pendapatan  yang  diterima entitas karena performin loans ini merupakan income-generating asset dalambentuk pendapatan bunga (Wild, Subramanyam, dan Halsey, 2007). Dengan kata lain, semakin besar proporsi piutang dari penyaluran kredit yang dilakukan koperasi maka pendapatan koperasisemakin meningkat dan  menyebabkan peningkatan  laba yang   dihasilkan. Peningkatan laba ini akan   meningkatkan rentabilitas ekonomi koperasi. Menurut Brigham dan   Houston   (2004),   tingkat   leverage   operasi   yang tinggi memiliki konsekuensi bahwa perubahan pendapatan dalam jumlah yang relatif  kecil akan mengakibatkan perubahan   yang   besar dalam profitabilitas. Entitas yang meningkatkan utangnya akan mengkonsentrasikan risiko bisnisnya kepada para   pemilik sehingga terdapat hubungan yang positif antara  leverage dan profitabilitas. Teori yang diungkapkan oleh Brigham dan Houston (2004) tersebut dilengkapi oleh Jensen (1986). 

Menurut Jensen (1986),utang memainkan peran penting dalam memotivasi manajer untuk meningkatkan         efisiensi organisasi dan rasio  utang  yang optimal diperoleh ketika tambahan manfaat (marginal benefit) dari utang tersebut sama dengan tambahan biayanya (marginal cost). Pada   range  tertentu, yaitu pada saat marginal  benefit lebih besar daripada marginal cost, profitabilitas meningkat sampai       titik  tertentu seiring dengan meningkatnya utang. Akan tetapi,profitabilitas menurun seiring dengan meningkatnya utang pada saat marginal cost lebih besar daripada marginal benefit.Umur entitas    merupakan ukuran lamanya suatu  entitas  tersebut beroperasi. Lamanya entitas beroperasi terkait    dengan pengalaman yang dimiliki oleh entitas tersebut. Semakin banyak pengalaman  yang dimiliki berpengaruh terhadap kinerja entitas dalam melaksanakan aktivitasnya. Menurut Ebbinghaus (1885) dalam Weiss (1990), semakin tua usia atau umur 4 entitas maka efisiensi   dalam   melakukan   suatu aktivitas semakin  meningkat yang pada akhirnya meningkatkan profitabilitas entitas tersebut. Rentabilitas ekonomi  merupakan salah satu proksi  dari  profitabilitas (Husnan dan Pudjiastuti, 2002). Dengan demikian, semakin lama koperasi beroperasi maka koperasi diharapkan semakin efisien dalam melaksanakan aktivitas sehingga semakin meningkatkan rentabilitas ekonominya. Menurut Maury dan pajuste (2004), untuk entitas yang bersifat tertututp (family-controlled firms) dengan karakteristik (1) pemilik mayoritas entitas memiliki  hubungan keluarga, (2) jumlah suara terdistribusi merata di antara pemilik mayoritas, dan (3)pemilik minoritas tidak memiliki kekuatan monitoring kepada pemilik mayoritas maka terdapat hubungan yang  positif antara   jumlah   pemilik   dan   nilai   entitas   (the   firm’s   value).   Peningkatan   nilai entitas   (the   firm’s   value)   tercermin   pada peningkatan kesejahteraan pemilik (the owner’s wealth) (Ross, Westerfield,  Jaffe, Jordan,     2008). Peningkatan kesejahteraan pemilik terjadi pada saat modal akhir lebih besar daripada modal      awal akibat  dari peningkatan laba yang diperoleh.Dalamkonteks koperasi anggota merupakan          pemilik koperasi, operasinya bersifat kekeluargaan, dan jumlah suaranya   terdistribusi   merata   di   antara   anggota sehingga teori yang diungkapkan  oleh Maury dan Pajuste (2004) dapat di terapkan koperasi, semakin banyak anggota koperasi maka nilai koperasi semakin meningkat. Peningkatan nilai koperasi ini tercemin pada peningkatan sisa hasil usahanya (SHU).

Sebuah koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit melakukan kegiatan usaha dengan cara menghimpun dan menyalurkan dana kepada anggota  dan calon anggota. Dana yang terhimpun disalurkan kepada anggota dan calon anggota melalui penyaluran kredit untuk mencegah agar tidak  ada dana koperasi yang mengaggur (idle fund) dan tidak produktif yang berimplikasi pada penurunan tingkat rentabilitas.

Kabupaten Buleleng adalah kabupaten terluas di Propinsi Bali dengan luas daerah 1.365,88 km2 atau 24,25% dari luas pulau bali. Selain sebagai daerah yang terluas, kabupaten buleleng juga memiliki jumlah penduduk yang banyak, yaitu 575,038 jiwa (BPS Bali,2010). Kecamatan Buleleng merupakan kecamatan yang jumlah koperasinya paling banyak yaitu, sebanyak 171 koperasi. Dari 171 koperasi tersebut ,27 diantaranya merupakan koperasi simpan pinjam (KSP) dan 2 koperasi merupakan koperasi kredit.

Tinggi rendahnya rentabilitas ekonomi dipengaruhi oleh banyak varibel. Varibel penduga (independent variabels) yang terindentifikasi mempengaruhi rentabilitas ekonomi adalah aset lancar, rasio aset tetap dibagi untung jangka pangjang, rata-rata piutang setelah dikurangi cadangan kerugian piutang, pengumpulan piutang, profit margin, total assets turnover, total assets, total utang, utang lancar, ROI, umur, dan jumlah anggota. Dalam rangka menginvestigasi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap rentabilitas ekonomi maka perlu dirancang sebuah model ekonometrika berdasarkan independent variables yang teridentifikasi tersebut. Model ekonometrika yang    dimaksud  adalah model regresi dengan metode OLS (Ordinary Least Squares) yang bersifat BLUE (Best Liniear Unbiased Estimator). Mode regresi yang bersifat BLUE ini diperoleh apabila memenuhi      tujuh asumsi klasik yang disyaratkan oleh Studenmud (2006). Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui model ekonometrika rentabilitas ekonomi di  Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit di  Kecamatan Buleleng yang bersifat  BLUE,   (2)   mengetahui   pengaruh   serempak   variabel- variabel    bebas dari model ekonometrika yang BLUE tersebut  terhadap rentabilitas  ekonomi di  Koperasi    Simpan Pinjam  dan  Koperasi Kredit di Kecamatan Buleleng, dan (3)   mengetahui   pengaruh   parsial   variabel-variabel bebas dari model  ekonometrika  yang  BLUE tersebut terhadap  rentabilitas ekonomi  di  Koperasi  Simpan  Pinjam  dan  Koperasi Kredit  di  Kecamatan Buleleng.

Nama/NPM        : Nurul Rochmah/25211402
Kelas/tahun        :2EB09/2012

Kamis, 14 Juni 2012

Zhang Da

Tokoh Utama:
 Zhang Da

Isi Cerita:
Di provinsi Zhejiang Cina, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namamya Zhang Da. perhatianya yang besar kepada papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau berkerja keras, serta tindakan dan perkataanya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas di sebut anak luar biasa.
Pada tahun 2001, Zhang Da di tinggal pergi oleh mamaya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suaminya yang sakit keras. sejak hari itu, Zhang Da hidup dengan seseorang papa yang tidak bisa berkerja,tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. kondisi ini memaksa seseorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggung jawab yang sangat berat. ia harus nya sekolah, ia harus mencari makan untuk papa dan dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat obatan yang pasti tidak murah harganya. Dalam kondisi yang seperti ini kisah luar biasa zhang da dimulai. ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini.
Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. dari rumah hingga sekolah, ia harus berjalan kaki melewati hutan kecil. dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, ia mulai makan daun, biji-bijian, dan buah-buahan yang ia temui. kadang, ia menemukan sejenis jamur atau rumput dan ia coba memakanya.
setelah pulang sekolah di siang hari hingga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dam memeroleh upah dari pekerjaan itu. hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.
Hidup seperti itu ia jalani selama lima tahun, namun badanya tetap sehat,segar, dan kuat.
Sejak umur 10 tahun, ia mulai mengemban tanggung jawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sesekali dan memandikan papanya. ia juga membeli beras dan membuatkan bubur, dan semua urusan papanya dia kerjakan dengan rasa tanggung jawab dan kasih. semua pekerjaan ini menjadi tanggung jawabnya sehari-hari.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis, dan orang terkenal melihat kisah Zhang Da, Mereka menawarkan apa saja pada Zhang Da, namun Zhang Da terdian dan tidak menjawab apa-apa "sebut saja, kita semua bisa membantumu." selama beberapa menit, Zhang Da masih diam lalu dengan suara bergetar ia menjawab, "aku mau mama kembali. Mama, kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. mama kembalilah!" demikian Zhang Da bicara dengan suara yang kersa dan penuh harap.

Tujuan dan Manfaat:
Setiap dari kita pasti telah dikarunia kemampuan dan kekuatan yang istimewa untuk menjalani ujian di dunia. sehebat apapun ujian yang dihadapi, pasti ada jalan keluarnya. pada setiap kesulitan, ada kemudahan dan tuhan tidak akanmenimpakan kesulitan di luar kemampuan kita>
Jadi, janganlah menyerah dengan keadaan. jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang kekalahan... BANGKITLAH! karena sesungguhnya kemenangan diberikan kepada siapa saja yang telah berusaha sekuat kemampuanya.

Diambil dari:
Novel kisah-kisah paling mengharukan di dunia oleh Akhmad Sirodz



Jumat, 01 Juni 2012

MEMILIH JADI KARYAWAN ATAU PENGUSAHA


MEMILIH JADI KARYAWAN ATAU PENGUSAHA
Kalau menurut saya pilihan yang berat yah untuk memilih antara jadi karyawan atau pengusaha?saya sih lebih memilih menjadi enterpreneur karena di indonesia sendiri sudah mulai banyak usaha sendiri dalam bidang macam-macam seperti kuliner,pakaian,sepatu,celana,fasion mode dll.seperti nya di indonesia sendiri enterpreneur semakin meningkat setiap tahun nya,namun hal tersebut juga menajadi bukti enterpreneur adalah menyenangkan dan memberi kan peluang yang sangat besar meraup keutungan bagi sih pengusaha tersebut walaupun keuntungan nya tidak banyak tapi lumayan lah tetapi pengusaha juga harus bersaing dalam pasar penjualan.demikian itu pola kerja enterpreneur juga tidak dibatasin waktu,atura, maupun yang lain berbeda kalau karyawan menyelesaikan tugas diselesaikan tepat waktu dan harus mengikuti aturan yang berlaku di tempat pekerjaan nya.
Menjadi entrepreuner juga bebas memilih tempat yang kita akan jalan kan pasti nya yang dapat terjangka oleh konsumen tersebut,pola kerja yang kita akan terapkan juga bebas tidak seperti menjadi karyawan kita harus mengerjakan tugas sesuai pola kerja yang telah diteteapkan bagaimana-bagaimana nya harus ini itu?selain itu juga bebas dalam memilih peluang usaha yang kita mempunyai bakat/basic dalam usaha tersebut,kita juga bebas mengatur pengeluaran kita untuk membeli barang-barang yang akan dipakai untuk menjalankan usaha tersebut dan keutungan yang akan kita dapat berapa persen dalam pengeluaran kita hal yang terpenting juga kita dapat melakukan mana yang terbaik untuk usaha kita.
Bukan hanya itu saja, berbagai peluang usaha yang dibangun, secara tidak langsung bisa membantu pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran yang semakin hari kian meningkat di indonesia. Dan yang lebih penting lagi, kerja keras seorang entrepreneur juga dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan gaji seorang pegawai atau karyawan oleh karena itu ada alasan nya seperti kepuasan batin dalam membuat produk yang nanti akan dijual,kepuasan atas penciptaan budaya kerja,dilihat dari sisi kemampanan yang finansial dan fleksibelitas.
Tetapi dibalik banyaknya keuntungan yang diperoleh, menjadi seorang entrepreneur juga memiliki resiko yang besar atau tidak sedikit. Misalnya saja resiko penghasilan yang tidak tetap, ada kalanya Anda untung besar namun ada kalanya pula Anda harus rugi karena omset usaha menurun. Disamping itu, menjadi seorang pengusaha sukses juga tidak mudah, karena tidak ada jaminan pasti bahwa semua orang yang memulai usaha bisa sukses. Butuh modal dan strategi bisnis yang baik untuk memenangkan persaingan pasar yang ada sekarang, karena dalam dunia bisnis persaingannya sudah sangat ketat.tapi saya yakin memilih menjadi entreprenuner ketimbang menjadi pegawai atau pun karyawan karena saya akan menjadi pengusaha muda yang sukses di indonesia.
Nama: Nurul Rochmah
kls: 1EB12
NPM: 25211407

Makna Sukses


Sering sekali kita mendengar kata sukses atau sebuah kesuksesan, kadang-kadang hal ini sudah membuat anda takut. Karena sepertinya makna dari kesuksesan dan sukses tadi sangat amat mendalam sehingga banyak orang takut bergerak ke jalan kesuksesan tadi. Sukses, bagi kebanyakan orang hanyalah impian saja atau hanya sebuah angan-angan dan hal itu jauh dari pikiran. Namun nanti dulu, saya berkata begitu bukan berarti tidak ada orang yang sukses. Sebagian orang memang ada yang hidupnya terus mendapatkan kesuksesan.
Kalau Saya sendiri, sering bertanya kepada hati saya sendiri, “kapankah saya bisa sukses seperti si X?”. Saking pengennya saya ini sukses kadang-kadang muncul juga pertanyaan “kenapa ya saya belum sukses ? apakah kurang usaha saya selama ini ?. Pertanyaan itulah yang terkadang ada di benak saya.
Padahal, ternyata dalam suatu buku yang membahas tentang sukses, sukses itu bukanlah hal yang perlu kita takuti, sesuatu yang sangat besar dan sangat sulit untuk diraih. Kesuksesan itu ada di depan mata kita setiap detiknya. Hanya saja, kita sering disibukkan oleh berbagai hal yang terjadi di sekitar diri kita yang justru hal tadi menjauhkan kita dari “kesuksesan” tadi. Berbagai hal disekitar kita yang seringkali menghalangi kita untuk sukses adalah urusan-urusan yang seharusnya tidak begitu penting kita jadikan menjadikannya sebagai urusan penting. Hal itulah yang seringkali membuat kesuksesan kita yang di depan mata menjadi melayang entah kemana.
Kesuksesan menurut saya bukan hanya punya rumah sepuluh buah, tiap bulan mendapatkan 10 cek dengan nilai 4 sampai dengan 5 digit atau punya 10 mobil dalam garasi rumah kita. Kesuksesan sendiri jika menurut saya adalah saat kita dapat menemukan sebuah kedamaian dan kebahagian dan saat kita melakukan hal-hal yang kita cintai. Banyak orang menganggap si X sukses dikarenakan memiliki 10 rumah, 10 perusahaan dan 10 mobil tapi dibalik semua kekayaannya itu belum tentu terdapat kesuksesan didalamnya. Orang sukses tidak selalu orang kaya dan banyak uang. Karena banyak juga kita temui bagaimana orang yang punya 10 perusahaan dan 10 rumah serta 10 mobil, tidak pernah mendapatkan sebuah kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya. Nah sekarang apakah anda masih takut untuk mengejar kesuksesan ? Kesuksesan sebenarnya terletak saat hati kita bahagia karena sesuatu hal.
Yuk kita kejar kebahagiaan hati kita masing-masing !!! entah itu dapat earning banyak, entah itu dalam bentuk anda menulis uneg-uneg anda di blog anda yang penting adalah saat ini Happy dulu. Didalam kebahagiaan tersimpan sejuta kesuksesan. Namun jika anda merasa tersiksa dengan apa yang anda lakukan, disana sulit sekali menggali kesuksesan.

Reviews:

Senin, 07 Mei 2012


Ekonomi Kerakyatan Indonesia

Faktor Pembangun Ekonomi
Sejarah manusia sudah panjang sedangkan era pertumbuhan ekonomi baru dewasa ini dikenal. Salah seorang pakar ekonomi W.W. Rostow mengemukakan teori yang membagi pertumbuhan ekonomi menjadi beberapa tahapan yang salah satunya adalah lepas landas yang merupakan analogi pesawat terbang yang baru bisa terbang jika telah mencapai suatu kecepatan kritis.
Setiap Negara memiliki konsep lepas landas yang berbeda-beda. Hal tersebut di dorong oleh sektor-sektor utama seperti pasaran ekspor yang berkembang cepat atau suatu industri yang dapat mencapai skala profit yang besar. Begitu proses tersebut berkembang maka terjadilah proses pertumbuhan swasembada yang menuju tahapan lepas landas. Pertumbuhan akan menghasilkan laba, laba direinvestasikan, modal dan produkstivitas serta pendapatan perkapita akan melesat ke depan. Pembangunan ekonomi pun sudah di memulai.
Ada empat faktor yang menunjukan kemajuan ekonomi suatu negara, keempat faktor tersebut adalah:
  • Sumber daya manusia
Peningkatan terhadap kualitas sumber daya manusia sering dilakukan dengan cara peningkatan kesehatan dan pendidikan. Dengan adanya jaminan kesehatan seseorang akan lebih dapat bekerja lebih produktif serta dalam peningkatan gizi akan menciptakan generasi mendatang yang lebih berkualitas.
Pendidikan merupakan hal utama yang dilihat sebagai indikator kemajuan suatu negara. Dengan tingginya kualitas pendidikan suatu negara maka tingkat kemajuan teknologi juga tinggi karena penririkan akan berdampak pada teknologi. Selain itu ketersediaan tenaga kerja bisa menarik minat investor untuk menanamkan modal. Salah satu kondisi penting untuk mensukseskan pembangunan adalah pemanfaatkan tenaga kerja secara baik.
  • Sumber daya alam
Sumber daya alam adalah bahan baku yang akan diolah menjadi barang hasil produksi yang memiliki fungsi guna yang berbeda-beda. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu persyaratan mutlak karena jika ketersediaan bahan baku sedikit maka akan berpengaruh terhadap minat investor yang ingin menanamkan modalnya. Indonesia memiliki ketersediaan akan sumber daya alam yang besar dan hal tersebut adalah modal awal dan sekarang tinggal pengolahannya saja.
  • Pembentukan modal
Suatu Negara biasanya akan menyisihkan pendapatan negara dari berbagai sektor yang akan digunakan sebagai investasi modal yang digunakan utuk proyek-proyek pembangunan ekonomi. Sebagai Negara berkembang masih menyisakan masalah yaitu masih terlalu kesilnya investasi modal karena tingkat konsumsi yang tidak berimbang dalam masyarakat.
Di Negara maju sekitar 15% sampai 25% pendapatan disisihkan untuk akumulasi modal.namun bagi Negara miskin hanya sekitar 5% saja yang dapat disisikan sebagai modal. Jadi sekarang apakah Indonesia mampu menyisikan pendapatan negaranya sekitar 10% ?. jawaban atas hal tersebut rasanya bukan tidak mungkin karena perekonomian Indonesia sedang dalam track record terbaiknya.
  • Tingkat teknologi dan inovasi
Dari ketiga faktor yang sudah disebutkan sebelumnya masihterdapat faktor yang tidak kalah pentingnya yaitu tingkat teknologi dan inovasi. Dalam masalah ini Negara berkembang memiliki potensi yang menguntungkan karena bisa mencontoh dari Negara yang maju yang memiliki tingkat teknologi dan inovasi. Namun dengan syarat terdapat sumber daya manusia yang berkualitas.
Telah dipahami bahwa terdapat empat faktor yang menjadi pilar pembangunan ekonomi namun itu semua masih belum merupakan jawaban bahwa Negara tersebut akan berkembang cepat dan inilah komponen yang bisa dijadikan acuan dalam pembangunan suatu Negara.
Ekonomi Kerakyatan Indonesia
Ekonomi kerakyatan merupakan langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produktivitas barang dan juga mengurangi pengangguran dan membuka lapangan kerja baru. Selain itu juga pemerintah juga ikut menyediakan pinjaman modal kepada pelaku UKM serta memberikan pelatihan keterampilan.
Kreativitas dan inovasi adalah keharusan karena barang hasil produksi dapat bersaing di pasar karena barang tersebut berbeda. Namun yang tidak kalah pentingnya juga adalah bagaimana agar usaha tersebut tetap dapat eksis berdiri meskipun mengalami keterpurukan.
Meskipun tujuan dari ekonomi kerakyatan baik tetapi sekarang kita mesti melihat keadaan masyarakat. Di Indonesia masalah utama yang dihadapi adalah kreatifitas dan modal. Keduanya merupakan penghambat bagi seseorang untuk merintis uasaha. Selai itu tingkat konsutif yang tinggi oleh masyarakat namun tak dibarengi oleh tingginya produktivitas barang dalam negeri.
Bagi setiap unit usaha dari semua skala dan disemua sektor ekonomi, era globalisasi dan pasar bebas disatu sisi memberikan banyak kesempatan namun juga memberikan banyak tantangan jika tidak dapat menghadapi dengan baik yang akan berubah menjadi ancaman. Bentuk kesempatan dan tantangan yang muncul tentu akan bebeda menurut jenis kegiatan ekonomi yang berbeda.
Globalisasi juga memperbesar ketidakpastian terutama karena semakin tingginya mobilitas modal, manusia, dan sumber daya produksi lainnya serta semakin terintegrasinya kegiatan produksi, investasi dan keuangan antarnegara yang antara lain dapat menimbulkan gejolak ekonomi suatu wilayah akibat pengaruh langsung dari keidakstabilan ekonomi di wilayah tersebut.