Minggu, 23 Desember 2012

Review 3: METODE KAJIAN


TINJAUAN PROSPEK KOPERASI INDONESIA DARI PERSPEKTIF DISIPLIN
ILMU MANAJEMEN BISNIS

Burhanuddin


Metode Kajian

                Metoda  yang  diterapkan  pada  kajian  ini  adalah  explorative  study yang  teknik studinya menggunakan kombinasi antara:
Studi Kepustakaan  (Library  research), difokuskan kepada literatur perkoperasian, ekonomi koperasi, manajemen umum, manajemen koperasi, serta hasil kajian yang relevan  dengan kegiatan  ini  baik  yang   dipublikasikan   maupun     yang   tidak dipublikasikan termasuk publikasi melalui internet. Observasi lapangan (Field research), dengan pendekatan expert explorative survey atau expertj udgement untuk menghimpun pendapat ahli yang berhubungan dengan tujuan kajian. Kegiatan ini dikaitkan dengan pengumpulan data primer di koperasi sampel  dan   pelaksanaan   seminar  di  perguruan   tinggi tertentu  untuk  menelaah kajian perkoperasian yang pernah dilakukan.

1.1   Jenis dan Sumber Data

Data sekunder dihimpun dari :

1.Hasil-hasil kajian perkoperasian (dalam berbagai bentuk seperti disertasi, tesis, skripsi, dll.) dari  perguruan    tinggi  yang   relevan   dengan   disiplin  ilmu manajemen    (dari  aspek  fungsi  dan  proses  manajemen,    strategi manajemen, struktur  organisasi, pembagian  tuigas, renumerasi,  sistem  karier  dan  efisiensi bisnis koperasi). Buku-buku teks ilmu manajemen perusahaan non koperasi dan koperasi baik yang diterbitkan di dalam negeri maupun dari luar negeri.

2.  Laporan tahunan dari beberapa koperasi yang menjadi obyek pengamatan. Data  primer  berasal  dari  hasil  observasi  lapangan,  wawancara  dengan  pengurus, manajer,  karyawan,    anggota  dan   pendapat  para  ahli  yang  dikumpulkan    dalam kegiatan seminar di perguruan tinggi.

1.2   Teknik Pengumpulan Data

Teknik  atau cara pengumpulan data dalam kajian ini dilaksanakan dengan
cara:
1) Wawancara     kepada   Pengurus,   Manajer,   Karyawan,    dan  Anggota;   
2) Pengamatan  langsung  pada  aktivitas  manajemen  koperasi; 
3) Studi  pustaka;
4) Pengumpulan     pendapat   ahli/pakar  di perguruan   tinggi  melalui  forum   seminar, konsultasi dan diskusi terbatas.

1.3   Variabel Operasional
Variabel  yang  digunakan  dalam  kajian  ini  meliputi  konsepsi  manajemen, proses dan fungsi   manajemen, sistim renumerasi, sistim karier, efisiensi usaha, dan positioning  koperasi.  Setiap   variabel kajian   dijabarkan  kedalam    dimensi,  dan indikator.

3.4   Teknik Penetapan Sampel

              Wilayah  kajian  ditetapkan   secara  sengaja  di  enam  lokasi  yaitu  Propinsi Sulawesi  Utara, Kalimantan  Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Propinsi  Lampung. Penetapan  propinsi  sampel  dilakukan  dengan  memperhatikan keragaman  dan  kompleksitas  koperasi  baik  dilihat  dari jenis,  bentuk  organisasi, sektor usaha, jangkauan pelayanan, skala bisnis, heterogenitas keanggotaan, maka obyek   observasi   difokuskan   pada   Propinsi  Jawa   Barat  dan   Sumatera   Utara. Selanjutnya,   di  wilayah   kajian   lainnya,  dilakukan    penelaahan   hasil  kajian perguruan   tinggi.  Sampel    koperasi   dikelompokkan     kedalam    koperasi   single purpose (diwakili oleh KSP dan Koperasi Peternakan) dan koperasi multi purpose(diwakili oleh KUD).

Tabel 1. Sebaran Sampel Koperasi Pada Dua Propinsi Wilayah (dalam unit)

         Propinsi             KUD       Kopnak        KSP       PUSKUD        GKSI

 Jawa Barat                      2           1          1            -           1
 Sumatera Utara                  2           -          1            1           -

Tabel 2.  Responden

                      Responden                    Jumlah (orang)

              1.  Pengurus                            18
              2.  Manajer                               9
3.  Karyawan                              9
4.  Anggota                                 9

        1.5  Metoda Analisis Data

                     Metoda    yang  digunakan   adalah  teknik  analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif.  Analisis   data   ini  diarahkan    untuk   menarik    kesimpulan    dan merekomendasikan berbagai hal berkaitan dengan tujuan Kajian Prospek Koperasi Dari Perspektif Disiplin Ilmu Manajemen Bisnis.


Nama/NPM  : Nurul Rochmah/25211407

Kelas/tahun :2EB09/2012

Review 2: PENDEKATAN MASALAH


TINJAUAN PROSPEK KOPERASI INDONESIA DARI PERSPEKTIF DISIPLIN
ILMU MANAJEMEN BISNIS

Burhanuddin


Pendekatan Masalah

1.1  Globalisasi dan Manajemen

Globalisasi  adalah  suatu  fakta kehidupan   yang   sulit terhindar. Kehidupan terpengaruh oleh arus globalisasi terutama kalangan dunia usaha. Badan usaha yang berkeinginan untuk bertahan dalam pasar dituntut untuk memiliki fokus global, tidak hanya perusahaan besar bahkan bisnis kecilpun mulai berorientasi global.Terkait dengan kondisi ini, Stoner menyatakan bahwa globalisasi menyumbang tiga fenomena yang saling berkaitan yaitu faktor kedekatan, lokasi dan sikap. Apabila disatukan,  ketiga  faktor  tersebut  menekankan     suatu  susunan   kompleksitas    yang belum pernah terj adi dan dihadapi sebelumnya oleh para manajer organisasi bisnis. Globalisasi  mendorong  sikap  baru  yang  lebih  terbuka  dalam  mempraktekkan manajemen secara internasional. Sikap ini menggabungkan dunia di luar batas batas nasionalismenya  dengan  kemampuan  berpartisipasi  dalam  ekonomi  global.  Ohmae(2000), menjelaskan gejala ini dengan pernyataan yang sederhana bahwa ”sekarang tidak ada lagi luar negeri”. Implikasi   dari perkembangan     globalisasi  terhadap  konsepsi,   pemikiran   dan praktek-praktek   manajemen     pada  berbagai   organisasi  khususnya    pada  organisasi bisnis  kian  tidak  terhindarkan.   Semua    hal  yang   semula   memadai     dan   cocok diterapkan  pada  situasi  budaya  lama  menjadi  usang  dengan  munculnya  globalisasi dan  pasar  bebas. 

Dalam  organisasi  bisnis  saat  ini  hanya  yang  paling  adaptif  yang akan mampu bertahan. Perusahaan atau organisasi bisnis yang resisten dengan cara-cara lama, tidak menyesuaikan diri dan masih belajar akan tertinggal. Dimensi    lain  yang    mempengaruhi      keberhasilan    bisnis  adalah   variabel  lingkungan eksternal  seperti politik, ekonomi, sosial budaya, iptek, informasi, etika dan  hukum    bisnis.  Para  pakar  dan   praktisi bisnis  menyadari   bahwa    perubahan  lingkungan  eksternal  amatlah  cepat, terkadang  sulit  dimengerti/misterius  (Rheinald Kasali, 2005). Oleh karena itu, organisasi bisnis harus tanggap dan adaptif terhadap perubahan. Taruhannya hanya ada dua pilihan ” berubah” atau ”diubah”.Sejalan dengan Rheinald Kasali, M. Fuad, dkk. (2000), mengemukakan bahwa perubahan lingkungan bisnis global  dan teknologi telah mendorong seleksi  alamiah yang   mengarah    kepada   ”yang   terkuat  yang  bertahan”   (survival  f or the  f ittest). Keberhasilan    perusahaan   dalam   berbisnis  di  pasar  bersumber    dari  kemampuan menyesuaikan diri dengan memberikan pelayanan dan menawarkan barang dan jasa yang sesuai selera pasar. Dampaknya, kondisi pasarpun berubah yang diindikasikan dari :

           Kekuasaan sudah beralih ke tangan konsumen (demand driven) Skala produksi yang besar bukan lagi merupakan suatu keharusan. Batas negara dan wilayah tidak lagi menjadi kendala. Teknologi dengan cepat dapat dikuasai dan mudah ditiru Setiap saat muncul pesaing dengan biaya yang lebih murah. Meningkatnya kepekaan konsumen terhadap harga dan nilai. Menghadapi kondisi tersebut, para pelaku bisnis termasuk koperasi perlu selalu menganalisis    pasar,  mengenali    peluang,   memformulasikan      strategi pemasaran, mengembangkan taktik dan tindakan  spesifik  serta menyusun anggaran dan laporan kinerja. Manajemen bisnis-pun perlu menerapkan paradigma baru yaitu manajemen perubahan,   seperti  dilansir oleh  Charles   Darwin   (dalam   Rheinald   Kasali,  2005) bahwa  ”bukan  yang terkuat  yang  mampu  berumur  panjang melainkan  yang paling adaptif (selalu   menyesuaikan diri   dengan    perubahan)”.    Perusahaan     bisnis  dianalogikan  seperti  mahluk  hidup  yang  berevolusi  untuk  survive  dan  meneruskan keturunan. Dalam evolusi, menoleh ke belakang adalah untuk memaknai kehidupan dan tantangan kedepan dengan perencanaan matang, cermat dan cerdas.

1.2   Konsepsi Manajemen

Pemahaman terhadap konsep manajemen tidak dapat dipisahkan dari konsep organisasi. Secara sederhana organisasi adalah tempat orang-orang yang bekerjasama untuk   mencapai     tujuan   tertentu  sebagai   elemen    mendasar.    Masalah    pokok manajemen  organisasi  tidak  lain  adalah bagaimana mengelola  dan  mengalokasikan sumber    daya  (manusia,   modal,   fisik, uang,   dll) untuk   mencapai    sasaran  atau tujuannya. Stoner,  dkk.  (1996)  mendefinisikan  manajemen  adalah  kebiasaan  yang  dilakukan secara  sadar  dan  terus  menerus   dalam   membentuk     dan   menjalankan   organisasi. Semua    organisasi   mempunyai     penanggung     jawab    terhadap   oreganisasi   untuk mencapai  sasarannya, orang tersebut  adalah manajer. Memperkuat pendapat  Stoner itu, Gibson, (1996)   mendefinisikan manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh  satu  individu  atau  lebih  untuk   mengkordinasikan     berbagai  aktivitas  untuk mencapai hasil lebih baik yang tidak dapat dicapai apabila individu bertindak sendiri- sendiri. Aliran Manajemen Ilmiah Teori  manajemen     ilmiah   muncul    sebagai   akibat  dari  kebutuhan organisasi untuk meningkatkan produktivitas. Di awal abad ke 20, terutama di Amerika Serikat, tenaga kerja terampil terasa amat kurang. Satu-satunya cara untuk   meningkatkan     produktivitas   adalah   meningkatkan     efisiensi  para pekerja.  Proponen  teori  ini  adalah  Frederick  W.  Taylor,  Henry    L.  Gantt, Frank serta Lilian Gil Frederick    W.    Taylor    (1856-1915)     dalam    Stoner    (1995:34), mendasarkan filosofinya pada empat prinsip dasar manajemen yaitu :

           Metoda terbaik untuk melaksanakan setiap tugas dapat ditentukan.Seleksi ilmiah para pekerja dengan pemberian tanggung jawab melakukan tugas yang paling sesuai. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan bagi para pekerja. Kerja  sama bersahabat  dan  secara pribadi  antara manajemen  dan tenaga kerja. Keberhasilan    menerapkan     keempat    prinsip  tersebut   memerlukan  revolusi  mental   pihak   manajemen     dan  tenaga   kerja  untuk   bekerjasama  meningkatkan produksi yang pada gilirannya laba akan meningkat  sehingga kesejahteraan  karyawanpun  membaik  pula.  Salah       satu  upaya  Taylor   yang paling populer  adalah  mengenai  studi  gerak  dan  waktu  (time  motion  study)pada lini produksi. Kontribusi Taylor dapat dilihat pada lini perakitan pabrik mobil   yang   menghasilkan     produk   akhir   lebih  cepat   dari  sebelumnya.Keajaiban   peningkatan    produktivitas   ini hanya    salah  satu  warisan   dari manajemen  ilmiah.  Teknik  efisiensi  Taylor  telah  diterapkan  pada  berbagai tugas dalam organisasi non industri seperti perusahaan jasa makanan siap saji sampai pelatihan untuk dokter bedah. Aliran Teori Organisasi Klasik Manajemen ilmiah memikirkan cara meningkatkan produktivitas dari pabrik  dan  individu  pekerja,  sedangkan  teori  organisasi  klasik  menemukan pedoman pengelolaan organisasi kompleks seperti pabrik. Para tokoh dibalik aliran ini adalah Henri Fayol, Max Weber, Mary Parker Pollett, dan Chester I. Bernard. Fayol berpendapat praktek manajemen yang mantap mempunyai pola tertentu  yang  dapat  diidentifikasi  dan  dianalisis. Dari  pemahaman  dasar  ini dirancanglah   suatu  doktrin  manajemen     yang  kompak,  yang     salah  satunya masih memiliki kekuatan dan dianut oleh banyak organisasi hingga sekarang. Bila Taylor fokus kepada organisasi, Fayol tertarik pada total organisasi dan memusatkan pada   manajemen,    hal  yang   paling  diabaikan   dalam   operasi bisnis.  Sebelumnya    dipercaya   bahwa   seorang   ”manajer   dilahirkan,  bukan dibentuk”.   Akan   tetapi  Fayol   meyakini   bahwa    manajemen     adalah  suatu keterampilan    yang    dapat   diajarkan   kalau   14  prinsip-prinsip   dasarnya difahami.

        Sejalan  dengan   Polett,  Chester  Bernard   (1886-1963) dalam Stoner (1995:38),  memperkuat  pernyataan  ini  bahwa  sebenarnya  orang berkumpul
dalam   organisasi  formal  untuk   mencapai    tujuan  yang  tidak  dapat mereka capai  kalau  bekerja   sendiri.  Tetapi pada   saat mengej ar   tujuan  organisasi mereka juga harus memuaskan kebutuhan individual masing-masing.

Aliran Tingkah Laku

        Aliran tingkah laku menganggap bahwa organisasi juga hidup bagaikan  manusia. Aliran  ini  mengkritik  pendekatan  organisasi  klasik yang tidak  berhasil  mencapai  produksi  efisien  dan  keharmonisan  di  tempat kerja yang memadai. Pendekatan aliran tingkah laku dalam manajemen (Behavioral Management) lebih banyak didukung oleh disiplin sosiologi dan psikologi.

Aliran Ilmu Manajemen

        Ilmu manajemen (Management science) muncul pada saat  perang dunia kedua, ketika pasukan  Inggris dengan  sekutunya berhasil  membentuk tim operation  research  (OR) yang beranggotakan berbagai ahli matematika, fisika dan ilmu yang lain dalam tim OR. Tujuannya adalah bagaimana dengan ketersediaan    logistik,  serdadu,   persenjataan    yang    ada   harus   mampu menaklukkan  Jerman  dan  Jepang. Terbukti  memang  Inggris  dan  sekutunya berhasil  memenangkan perang,   kemudian    setelah  perang  usai, penerapan model    OR    menjadi   semakin    jelas  terlebih  lagi  setelah ditemukannya komputer    berkecepatan    dan  kemampuan      tinggi  hingga komunikasi     antar komputer    membuka      jalan  untuk   menangani     masalah    organisasi  dalam penggunaan  sumber  dayanya  yang  semakin  kompleks  untuk  tujuan analisis optimasi pemakaiannya.

Aliran Mutakhir Teori Manajemen

        Teori manajemen modern pada dasarnya adalah mozaik dari berbagai teori yang paling sedikit telah bertahan selama satu abad terakhir  (Stoner et.al.,  1995:45).   Teori   manajemen     yang   belakangan    muncul   diantaranya menggunakan pendekatan sistem dan pendekatan kontingensi (situasional). Pendekatan  sistem  dalam  manajemen  memandang  organisasi  sebagai  suatu kesatuan  sistem  atas berbagai  sub-sistem  yang  saling berkaitan. Pendekatan ini memberikan kemungkinan kepada para menejer untuk melihat organisasi secara keseluruhan  dan  sebagai  bagian  dari  lingkungan  eksternal  organisasi yang   lebih  luas   dan  berubah    secara  dinamis.   Teori   sistem  setidaknya membantu     manajer    dalam  meramalkan     bagaimana    pengaruh    lingkungan eksternal dari sistem bisnis global terhadap organisasi     sebagai salah satu sub sistemnya.

2.3   Fungsi dan Proses Manajemen

             Para  pakar  manajemen  sejak  akhir  abad  kesembilan  belas,  mendefinisikan manajemen dalam empat fungsi spesifik, yaitu Planning, Organizing, Actuating), dan Controlling.  Perkembangan     terkini, para  pakar  manajemen     Amerika   cenderung hanya  menganut    tiga fungsi  utama  yaitu  Planning,  Organizing,  dan   Controlling sebab  dianggap  bahwa  Actuating    sebenarnya  termasuk  dalam  fungsi  perencanaan (Gibson,  et.  al., 1996:174).  Proses  manajemen  adalah  cara  sistematik  yang  sudah ditetapkan  dalam   melakukan   kegiatan  yang   menekankan    manajer   terlibat dalam aktivitas yang  saling terkait  dalam fungsi-fungsi  manajemen untuk  mencapai  suatu tujuan organisasi yang diinginkan. Dalam  praktek,  penerapan  fungsi  pengendalian  dalam  manajemen  modern dikaitkan  dengan   orientasi peningkatan   kualitas  secara menyeluruh.    Konsep   ini dikenal  sebagai  Total  Quality  Management  (TQM)  dan  istilah  total  mengandung makna   every  process,  every  j ob  and  every  person   (Lewis   and  Smith,  1994).Pengertian  TQM  dibedakan  dalam  dua  aspek     (Goetsch  and  Davis,   1994).  Aspek pertama   menguraikan    pengertian   TQM     yaitu  pendekatan dalam menjalankan bisnis/usaha yang  berupaya   memaksimalkan     daya saing melalui penyempurnaan terus-menerus atas produk, j asa, manusia, proses dan lingkungan organisasi. Aspek kedua adalah cara mencapainya dan berkaitan dengan  10 karakteristik TQM. Creech(1996)  di  sisi  lain  mengemukakan  terdapat  lima  pilar  untuk  berhasil  menerapkan
TQM, yaitu produk, proses, organisasi, pemimpin dan komitmen.

2.4   Sistem Penggajian (Renumerasi)

Para   peneliti  dan  praktisi  manajemen    telah  berusaha   mengembangkan  pemahaman     terhadap  hubungan   antara  struktur  organisasi dengan   kinerja,  sikap karyawan, kepuasan kerja dan berbagai variabel lain yang dianggap penting. Namun usaha  pemahaman  tersebut  terhambat  oleh  kerumitan  hubungan  diantara  variabel- variabel  tersebut  dan  kesulitan  dalam  mengukur  dan  menentukan  konsep    struktur organisasi itu (Gibson, et. al., 1996: 235). Oleh sebab itu, dimensi sistim penggajian dan  sistim  karier dimasukkan    dalam   ranah  struktur organisasi  untuk   kemudian menjadi   variabel sendiri  dalam   ranah  manajemen    sumberdaya    manusia   sebagai cabang ilmu manajemen yang mendalami masalah tersebut. Sistem penggajian (renumerasi) atau sistem kompensasi merupakan hal yang paling  mendasar   dari  manajemen   sumberdaya  manusia     sebab  adanya  tenaga  dan pikiran  yang   dicurahkan   untuk   mendapatkan     kompensasi.    Kompensasi    di mencakup    insentif  untuk meningkatkan    motivasi  karyawan   yang  pada  gilirannya meningkatkan    produktivitas  karyawan.    Kompensasi    didefinisikan  sebagai   what  employees receive in exchange f or their work, including pay and benef its. (Werther,1994).  Definisi lain  menyebutkan    Compensation    ref ers to  all f orms of f inancial returns, tangible services, and benef its employees recieve as part of  an employment relationship . (Milkovich, 1988) Pengertian ini menjelaskan bahwa kompensasi merupakan hal penting karena pendapatan dan benefit lainnya pada dasarnya merupakan  sesuatu untuk memenuhi banyak kebutuhan karyawan. Selain itu juga pendapatan dan benefit lain merupakan simbol  prestise, kekuasaan, prestasi  dan  status karyawan  dalam  masyarakat. 

Setiap orang yang menukarkan jasanya kepada organisasi dengan harapan akan memperoleh imbalan. Penentuan besarnya kompensasi memerlukan banyak pertimbangan. Milcovich   (1988)  menciptakan    suatu  model  yang  menggambarkan faktor- faktor  yang   terlibat dalam   pengambilan    keputusan   dalam   hal  kompensasi    bagi karyawan. Pada model tersebut dapat dilihat bahwa faktor-faktor yang berada di luar  teknik  kompensasi    sebenarnya  bertujuan  untuk  menciptakan  efisiensi    serta equity bagi karyawan dan perusahaan. Model   ini  memperlihatkan    secara   garis besar  faktor-faktor  yang   mempengaruhi kepuasan    maupun     ketidakpuasan    karyawan     dalam   hal   kompensasi.    Hal   ini dibandingkan dengan beban pekerjaan  serupa yang ditangani karyawan  setingkat di organisasi lain, misalnya tentang karakteristik pekerj aan, hasil yang didapat dari sisi non finansial, pendapatan yang pernah diperoleh karyawan sebelumnya, pendapatan yang   diperoleh   karyawan    setingkat  di  organisasi   lain  serta  pendapatan    yang diperolehnya   di  organisasi.  Kompensasi    langsung   berupa   upah/gaji  dan  insentif, sedangkan kompensasi tidak langsung dapat berupa tunjangan-tunjangan. Dalam hal ini Edwin B. Flippo membedakan tiga jenis kompensasi, yaitu (1) kompensasi dasar,(2) kompensasi variabel, dan (3) kompensasi tambahan tunjangan. Kompensasi berupa   upah/gaji   biasanya   didasarkan   pada   hasil  evaluasi  pekerjaan.   Evaluasi pekerjaan jika dikaji bersamaan dengan survei atas dasar tarif-tarif yang dibayar oleh perusahaan   pesaing,   akan  membantu     perumusan    kebijakan   upah   dan  gaji  yang memadai. Ini  berarti  penyusunan  kebijakan  upah  atau  gaji  harus konsisten  dengan kondisi internal dan kondisi eksternal organisasi.

2.5   Sistem Karier

              Dalam manajemen sumberdaya manusia, sistem karier karyawan merupakan bagian  dari  program  pengembangan, penghargaan  dan  pemeliharaan  (maintaining) karyawan. Dalam kondisi kompetisi perusahaan industri terdapat suatu kendala yang dirasakan   setiap perusahaan,  yaitu   keterbatasan  tersedianya   sumberdaya    manusia yang  handal  agar  perusahaan  mampu  bertahan. Untuk  mengatasi  masalah  tersebut  sering perusahaan mengambil jalan pintas dengan membajak atau memberi tawaran karier dan penghargaan yang lebih menarik dibandingkan dengan perusahaan asal.Khusus mengenai sistem karier, rotasi dan penghargaan diakui oleh para ahli dan  kalangan  praktisi  manajemen  bisnis  dapat  menunjang  produktivitas kerja  para karyawan, sebab faktor tersebut berpengaruh terhadap motivasi kerja. Kaitan antara sistem  karier  dan  rotasi  kerj a  dengan  motivasi  kerja  diungkapkan  oleh  R.  WayneMondy dkk (1999) bahwa transfer karyawan dari satu bidang ke bidang kerja lainnya diantaranya   adalah   untuk  menumbuhkan       kepuasan   kerja  dalam    diri karyawan. Sementara    itu kepuasan    kerja  amat   berpengaruh    terhadap  motivasi   kerja  para karyawan    suatu  perusahaan.  Hal   senada  dikemukakan     oleh  Robert   Kreitner  dkk (1998) bahwa rotasi kerja adalah bagian dari sistem karier karyawan yang bertujuan untuk  menciptakan  variasi  pekerjaan  bagi  karyawan,  sebab     (1) f irms  of ten f ind  it necessary  to reorganize,  (2)  to make positions available in the primary promotion channels. Another reason is to satisfy employees personal desires and is an eff ective dealing with personality clashes.

2.6   Efisiensi Usaha

              Efisiensi usaha merupakan ukuran keberhasilan manajemen dalam mengelola sumberdaya perusahaan yang dikenal dengan istilah the six M ’s, yaitu Man, Material, Machines, Methods, Money  and Market. Efisiensi  merupakan  ukuran produktivitas dari  managerial  skill  suatu  organisasi/  perusahaan. Hanya perusahaan  yang  efisien yang akan mampu bertahan dalam pasar yang kompetitif.Boediono (1986), mengemukakan bahwa efisiensi manajemen pada koperasi dapat diukur dengan cooperative eff ect yaitu seberapa banyak anggota koperasi yang bisa  diangkat  dari  bawah  garis kemiskinan. Pendapat  Boediono  lebih  menekankan efisiensi koperasi pada efisiensi pengembangan dan efisiensi pemenuhan kebutuhan anggotanya. Konsep   efisiensi  dalam  kajian  ini lebih  menekankan  pada  efisiensi  usaha koperasi  dan  manfaat   yang   diberikan  koperasi  kepada   anggotanya.   Pengukuran efisiensi usaha   menggunakan      rasio  keuangan    yang   umum     digunakan    dalam perusahaan  seperti rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio pengungkit  (leverage  ratio) dan rasio provitabilitas Bambang Riyanto (1995). Sedangkan pengukuran efisiensi di tingkat anggota akan menggunakan konsep Hanel dan Boediono.

2.7   Analisis Positioning

                   Analisis positioning suatu organisasi atau perusahaan pada hakekatnya adalah bagian  dari  manajemen  pemasaran. Positioning  dapat  diartikan  bagaimana  produk suatu  perusahaan   diposisikan  dalam   pasar  tertentu.  Hal ini diamati  dari  adanya pembelian   berulang   dari konsumen     dan  menjadi   indikator  kepuasan   konsumen sehingga  perusahaan  berhasil  menempatkan  posisinya  di  hati  para  konsumen  yang menjamin kelangsungan bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Positioning   sering  dipakai  sebagai  strategi manajemen     perusahaan   untuk memposisikan    perusahaan    dalam   pasar. Mekanismenya      diawali  dengan   analisis lingkungan  internal  perusahaan  untuk  menentukan  faktor-faktor  strategis  kekuatan dan  kelemahan    yang   ada.  Kemudian,     dilanjutkan  dengan    analisis lingkungan eksternal  perusahaan  (politik,  ekonomi,  sosial  budaya,  demografi,  teknologi,  dan  hukum)    untuk   mengamati     peluang    dan   ancaman    yang    dapat  menghambat pertumbuhan dan perkembangan organisasi.

Nama/NPM  : Nurul Rochmah/25211402

Kelas/tahun :2EB09/2012

Review 1: ABSTRACT DAN PENDAHULUAN


TINJAUAN PROSPEK KOPERASI INDONESIA DARI PERSPEKTIF DISIPLIN
ILMU MANAJEMEN BISNIS

Burhanuddin

BAB I PENDAHULUAN

1.1    ABSTRACT

            This manuscript is the result of the assessment of assistant Deputy Cooperative Research done by several researchers. Through various improvements, this result  was  re-wrapped up  by  the  authors  to  be adjusted the format of journal  manuscript. Discussion on cooperative is always still interesting,  although  always    invite  questions  which  was  not  rarely  unproportional.  Not  all question  could be  replied  in an assessment report,  but it is  expected could p rovide a color of another view and could become new questions. However, the interesting thing of  this assessment is thatf rom the point of  view of  business management discipline, global business environmental changes all the more persuade cooperative organizations apply modern management discipline to ref ormulate obj ective and strategy, restructurisation and resources reallocation toward which is  more   innovative  to  create  competitive   advantage    in  the market.   From    the  perspective concerned,  management practice  now  has  been  lef t behind  and becomenot  relevant with  the pursuit of  the era. This is j ust, which ref lects sluggish growth of  cooperative, even stagnant in Indonesia which is indicated by the eff ect of f undamental weakness in applying thef unctions of Managemen Prospek, Perspektif , Manaj emen Bisnis, Sistem Renumerasi, and Sistem Karier.

1.2.  PENDAHULUAN

Setelah  lebih  dari  50  tahun  keberadaannya,  organisasi  koperasi  yang diharapkan menjadi  pilar  atau  sokoguru  perekonomian  nasional  dan gerakan  ekonomi  rakyat  masih terus   dipertanyakan. Sebab perkembangannya       belum    sesuai   dengan    harapan   atau mendekati taraf yang dicapai di negara-negara lain. Fenomena empiris koperasi Indonesia jika  dibandingkan     dengan   praktek   koperasi   di  berbagai   negara  industri  maju    yang menganut sistem ekonomi liberal dan kapitalistik dinilai oleh banyak kalangan masih jauh tertinggal,  atau jalan  di  tempat  (stagnant)  dan  cenderung  tergantung  pada  fasilitas  dan bantuan  pemerintah.  Bahkan,  sebagian  kalangan  lain  berpendapat  bahwa  koperasi  lebih sering dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya. Pendapat ini dapat ditelusuri berdasarkan data perkembangan koperasi tahun 2006. Secara  kuantitatif,  total  lembaga  koperasi  di  Indonesia  tercatat  sebanyak   138.411 unit, dengan jumlah  anggota  27.042.342  orang. Namun, dari jumlah tersebut jumlah  koperasi aktif hanya sebanyak 43.703 unit atau hanya sekitar 31,5 persen saja. Hal ini menunjukan bahwa koperasi sebagai lembaga ekonomi memiliki derajat kompleksitas yang lebih tinggi. Kompleksitas ini menyebabkan pertumbuhan koperasi yang berkualitas sangat terbatas dan cenderung    kurang   dapat   diandalkan   untuk   mengatasi   problem    sosial ekonomi    dalam masyarakat. Hal tersebut tidak tertutup kemungkinan disebabkan oleh muatan dan beban. 

 *)  Peneliti Utama pada Deput Bidang  Pengkaj ian Sumberdaya UKMK
          koperasi yang sarat dengan aspek-aspek non ekonomi, mis-management atau bahkan under managed. Aktivitas koperasi sebagai badan usaha, tidak terlepas dari berbagai pengaruh, baik dari  lingkungan  internal  (SDM, organisasi  dan  kelembagaan, manajemen, modal, ragam usaha,  keanggotaan,  teknologi)  maupun    lingkungan   eksternal (sosial budaya,   politik, perekonomian, hukum, informasi, dan perkembangan  iptek)  di tingkat regional, nasional dan  internasional. Pengaruh   ini sebenarnya   mendorong    terciptanya perubahan   karena adanya tantangan dan sekaligus peluang bagi pengembangan koperasi. Namun, dapat pula menjadi   ancaman   akibat  tingkat  persaingan   yang   semakin   ketat. Konsekwensinya, manakala koperasi tidak memiliki keunggulan kompetitif, maka perubahan hanya menjadi masalah bagi koperasi. Fakta ini menjadi pertanyaan mendasar yaitu:  1) apakah koperasi masih  relevan  dikembangkan  dalam  lingkungan  masyarakat  Indonesia  yang  mengalami perubahan? 2) jikalau masih relevan, mengapa koperasi belum berkembang di Indonesia? 3)  apakah  kondisi  masyarakat  Indonesia  sekarang  masih  kondusif  bagi  pengembangan ekonomi   rakyat  melalui  kelompok    atau  koperasi?  4)  apakah   proses  pengembangan koperasi  di Indonesia  masih  sejalan  dengan  konsep/teori  ekonomi,  manajemen,    sosial budaya, psikologi,  serta hukum  yang  berlaku  umum?  5)  apakah  berkoperasi  merupakan salah  satu pilihan untuk mensejahterakan masyarakat? 6) bagaimana pola pengembangan koperasi di masa depan pada lingkungan yang dinamis? Keenam pertanyaan di atas dikaji secara komprehensif melalui perspektif disiplin ilmu Manajemen Bisnis terhadap prospek masa depan koperasi Indonesia. 

Berdasarkan fenomena masalah  di atas dapat dirumuskan dua permasalahan yang spesifiknya yakni :

 1. Bagaimana prospek pengembangan koperasi di Indonesia ditinjau dari perspektif ilmu manajemen  khususnya  manajemen  bisnis  dengan  keempat  fungsinya  dan  dikaitkan kepada   sistem  penggajian   (renumerasi),  dan  sistem  karier, termasuk   konsep  dan analisispositioning koperasi dan non koperasi, efisiensi usaha dan manajerial skill ?

2. Bagaimana  rumusan  rekomendasi  model  pemberdayaan  koperasi  dalam  lingkungan yang dinamis ditinjau dari perspektif manajemen bisnis ?

Nama/NPM  : Nurul Rochmah/25211407
  Kelas/tahun           :2EB09/2012

Review 4: SIMPULAN DAN DAFTAR PUSTAKA


PENGARUH VARIABEL ASET LANCAR, DEBT TO TOTAL ASSETS, UMUR,  DAN JUMLAH ANGGOTA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN KOPERASI KREDIT  DI KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG: SEBUAH PEMODELAN EKONOMETRIKA

Putu Agus Ardiana  Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Luh Kartini Eka Sari  Jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

SIMPULAN

            Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa sebagai berikut.

(1) Berdasarkan pemodelan ekonometri ykan diperoleh bahwa model ke-15 merupakan model ekonometri yang BLUE karena memenuhi tujuh asumsi klasik seperti yang disyaratkan oleh studentmund (2006). Dari model 15 ini didapat empat variabel bebas yaitu aset lancar, debt to total asset, umur dan jumlah anggota

(2) Berdasarkan f-test yang dilakukan, diperoleh probility (p-value) f-statistic sebesar 0.0000000. nilai ini lebih kecil daripada level of significance yang di tentukan sebesar 0.05 sehingga HO ditolak. Denagn demikian, kempat variabel bebas (aset lancar, devt to total assets, umur, dan jumlah anggota) berpengaruh serempak terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan kredit di kecamatan buleleng.

(3) Berdasarkan t-test yang dilakukan, diperoleh bahwa semua variabel beabs berpengaruh secara parsial terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit di kecamatan buleleng karena semua variabel babas memiliki p-value yang lebih kecil daripada level of significance 0.05

        Nama/NPM      : Nurul Rochmah/25211402
        Kelas/tahun     :2EB09/2012

Review 3: HASIL DAN PEMBAHASAN




PENGARUH VARIABEL ASET LANCAR, DEBT TO TOTAL ASSETS, UMUR,  DAN JUMLAH ANGGOTA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN KOPERASI KREDIT  DI KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG: SEBUAH PEMODELAN EKONOMETRIKA

Putu Agus Ardiana  Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Luh Kartini Eka Sari  Jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Penelitian ini dilakukan dengan memasukan 18 variabel bebas yang diduga mempengaruhi rentabilitas ekonomi. Setelah dilakukan 15 kali pemodelan maka didapatkan model yang bersifat BLUE. Model ke-15 kali merupakan model yang BLUE karena memenuhi tujuh asumsi klasik seperti yang disyaratkan oleh studentmund (2006). Berdasarkan pengujian ramsey test untuk asumsi kalsik yang pertama sampai dengan asumsi yang ketiga diperoleh p-value untuk statisticnya adalah 0.545391 lebih besar dari pada level of significance yang di tentukan sebesar 0.05 sehingga HO (model is not misspesifield owing to wrong functional form) diterima. Uji asumsi klasik yang ke-4 adalah autokorelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson, Breusch-Godfrey Serial Correlation LM lest, dan collelogram of residuals tets. Dari ketiga pengujian yang dilakukan, dua pengujian menyatakan tidak terjadi autokorelasi reidual model ke-15, sedangkan satu pengujian (Durbin-Wtson) tidak dapat memutuskan terjadi tidaknya autokorelasi residul model ke-15. Denagan adanya demikian, dapat disimpulakan bahwa tidak terjadi autokorealsi pada residul model ke-15.

            Pengujian asumsi klasik yang kelima ini dilakuakn melalui white’s heteroskedasticity test. Berdasarkan ted ini diperoleh probality (p-value) f-statistic-nya adalah 0.842423, lebih besar dari pada level of significance 0.05 sehingga HO (errors are homekedastic)di terima (studentmund,2006). Asumsi klasik yang keenam berkaitan dengan multikolinearitas. Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas pada suatu model regresi adalah dengan melihat VIF (Variance Inflation Factor). berdasarkan tabel output model 15 didapatkan nilai R2-nya adalah di bawah 1, yaitu sebesar 0.73030862 sehingga nilai VIF-nya menjadi 3.71 nilai VIF sebesar 3,71 ini tidak mencerminkan terjadinya perfect multicolinearity. Nilai VIF SEBESAR 3,71 ini lebih kecil daripada 5 maka dapat diartikan bahwa tidak terjadi multicollinearity pada model 15 ini. Uji asumsi klasik yang ketujuh ini dilakukan dengan jarque –bera normality test (JBTS). Berdasarkan output uji ini diperoleh probality-nya (p-value) adalah 0.008495, lebih kecil dari pada level of significance 0.05 sehingga HO (errors are nomally distributed) ditolak. Meskipun berdasarkan pengujian jarque-bera normality test (JBTS) disimpulkan bahwa residual modal ke-15 tidak terdistribusi normal, residual model ini dapat di anggap terdistribusi normal (rsidual is approximately normally distributed) karena jumlah observasi lebih besar dari pada 30 (central limit theoren)  (studenmund, 2006).

            Dari output ke-15 ini didapatkan model regresi sebagai berikut.

Y      = βo+ βX  + βX  + βX  + βX  + ε
  i             1  1     2  2    3  3     4  4     i

Y      = 0.087828 + 1.15E-11 X  – 0.070966 X  – 0.005381 X  – 5.53E-05 X  + ε
  i                                    1                  2                 3                  4     i

thit  =                6.332969       (4.165571)      (5.413087)         (6.919911)
Sig    =               0.0000         0.0002          0.0000          0.0000

R2    =   0.730862
F-statistik    =  20.36676
Prob(F-statistik) =      0.000000

Keterangan:

Yi       = Rentabilitas ekonomi
βi      = Koefisien regresi
X1       = Variabel bebas aset lancar
X2       = Variabel bebas debt to total assets
X3       = Variabel bebas umur
X4       = Variabel bebas jumlah anggota
εi      = Error term (residuals)

Dari tabel output di atas diperoleh probality (p-value) F-stasistic sebesar 0.000000 nilai ini lebih kecil dari pada level of significance yang ditentukan sebesar 0.05 sehingga HO di tolak. Dengan kata lain keempat variabel bebas ( aset lancar, debt to total assets, umur, dan jumlah anggota) berpengaruh serempak terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan kredit di kecamatan buleleng.

            Persamaan regresi modal ke-15 yang terdiri atas empat variabel bebas tersebut adalah:

Y      = βo + β1X  + β2X  + β2X  + β4X  + ε
  i                 1        2        3        4     i

Y      = 0.087828 + 1.15E-11 X  – 0.070966 X  – 0.005381 X  – 5.53E-05 X  + ε
  i                                   1                 2                  3                 4     i

Thit  =                 6.332969          (4.165571)         (5.413087)         (6.919911)
Sig    =                0.0000            0.0002             0.0000             0.0000
R2    =   0.730862
F-statistik    =  20.36676
Prob (F-statistik) =     0.000000

Keterangan:

Yi       = Rentabilitas ekonomi
βi      = Koefisien regresi
X1       = Variabel bebas aset lancar
X2       = Variabel bebas debt to total assets
X3       = Variabel bebas umur
X4       = Variabel bebas jumlah anggota
εi      = Error term (residuals

            Mengigat p-value untuk variabel bebas aset lancar adalah 0.00000 lebih kecil daripada 0.05 (level of significance) dan tanda dari koefisien regresi adalah positif maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas aset lancar berpenagruh positif terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit di kecamatan buleleng. Berdasarkan struktur aset lancar dari tujuh koperasi menjadi samp[el dalam penilitian ini selama periode 2005 sampai dengan 2009, proporsi terbesar dari aset loancar adalah piutang yang berasal dari pemberian kredit (pinjaman yang di salurkan). Semakin besar pinjaman yang dapat disalurkan berarti menyebabkan bertambahnya pendapatan yang diterima koperasi yang bersal dari pendapatan bunga karena pi8njaman yang dapat di salurkan  ini merupakan income-generating assets.

            Variabel bebas debt to total assets berpengaruh negatif terhadapap entabilitas ekonomi di koperasi simpah pinjam dan kredit di kecamatan buleleng karena p-value adalah 0.0002, lebih kecil dari pada 0.05 (level of significant) dan tanda dari koefisien regresi adalah negatif. Meningkatkan debt to total assets disebabkan oldeh meningkatnya total uang (debt) dan meningkatnya total assets . menurut brigham dan houstan (2004), tingkat leverage operasi yang tinggi memiliki kosekuensi bahwa perubahan pendapatan dalam jumlah yang relatif kecil akan mengakibatkan perubahan yang besar dalam prifitabiltas. Lebih lanjut lagi brigham dan houston menjelaskan bahwa entitas yang meningkatkan utangnya dan menkosengtrasikan risiko bisnisnya kepada para pemilik. Dengan denikian, dapat sisimpuulkan  bahwa terhadap hubungban positif antara leverage dan profitabilitas. Dari tujuh koperasi yang menjadi sampel dalam penilitian,

                          

     Lagi Brigham danHouston menjelaskan bahwa entitas yang meningkatkan utangnya akan mengkonsentrasikan risiko bisnisnya kepada     para   pemilik. Dengan demikian, dapat di simpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara leverage dan profitabilitas. Dari tujuh koperasi yang menjadi sampel dalam penilitain ini selama periode 2005 sampai dengan 2009, terlihat bahwa penigkatan hubungan sukarela lebih besar daripada peningkatan pinjaman yang dilakukan oleh koperasi sehingga debt to total assets-nya meningkat. Menurut jensen (1986), utang memainkan peran penting dalam memotivasi manajer untuk meningkatkan efisien organisasdi dan rasio utang yang optimal diperoleh ketika tambahan manfaat (marginal benefit) dari utang tersebut sama dengan tambahan biayanya. Pendapat jensen (1986) ini melengkapi pendapat yang diungkapkan oleh brigham dan houtson (2004) bahwa pada rage tertentu yaitu pada saat marginal benefit lebih besar daripada marginal cost, profitabilitas meningkat sampai titik tertentu seiring denagn meningkatnya utang. Akan tetapi, profitabilitas menurun seiring dengan meningkatnya utang pada saat margianl cost lebih beasr daripada marginal benefit. Semakin menegaskan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam. Dan koperasi kredit di kecamatan Buleleng.




Nama/NPM  : Nurul Rochmah/25211407
Kelas/tahun  :2EB09/2012

Review 2: METODE PENELITIAN



PENGARUH VARIABEL ASET LANCAR, DEBT TO TOTAL ASSETS, UMUR,  DAN JUMLAH ANGGOTA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN KOPERASI KREDIT  DI KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG: SEBUAH PEMODELAN EKONOMETRIKA

Putu Agus Ardiana  Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Luh Kartini Eka Sari  Jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

METODE

Metode Penentuan Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah kopersai simpan pinjam dan koperasi kredit di kecamatan buleleng yang terdaftar di Dinas Koperasi, perindustrian, dan perdagangan kabupaten buleleng, aktif sampai dengan tahun 2010 dan mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) sampai dengan maret 2010, serta menerbitkan laporan keuangan secara lengkap dari tahun 2005 sampai 2009. Dalam penelitian ini di peroleh sempel sebanyak tujuh koperasi yang terdiri atas enam koperasi simpan pinjam (KSP) dan satu koperasi kredit. Periode pengamatan adalah lima tahun, yaitu dari tahun 2005 sampai dengan 2009. Berikut adalah daftar nama koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit menjadi sampel.

            Tabel 1 kopearsi simpan pinjam yang menjadi sampel

No                   Nama koperasi sampel                 Alamat

1          KSP Lintas Desa Pada Payu          Banyuning
2          KSP Dana Mukti                              B I N. Banyuning Indah
3          KSP Eka Karya Utama                   Jl. Veteran No.11
4          KSP Artha Guna Bhakti                 Jl. Gunung Agung Gang 3
5          KSP Ganesha Studi Group           Jl. Bekisar No. 1 Singaraja
6          Kopdit Swastiasnu                         Jl. Laksaman, Bhakti Seraga
7          KSP Citra Komunikasi Mandiri    Banjar Bali

Sumber :  Dinas  Koperasi, Perindustrian,  dan  Perdagangan  Kabupaten Buleleng (2010)

Teknik Analisis Data

            Teknik analisis data yang digunakan dalam penilitian ini adalah analisis regresi linear berganda (multiple linear regression analysis) dengan metode OLS (ordinary least square).

Analisis Regresi Berganda

            Model Model analisis regresi berganda ditunjukkan oleh persamaan

Y      = β + βX  + βX  + βX  + βX  + ε
  i       o      1  1    2  2     3  3     4  4     i

Keterangan:

Yi       = Rentabilitas ekonomi
βi      = Koefisien regresi
X1       = Variabel bebas aset lancar
X2       = Variabel bebas debt to total assets
X3       = Variabel bebas umur
X4       = Variabel bebas jumlah anggota
εi      = Error term (residuals)


Uji Asumsi Klasik

            Model regresi yang BLUE adalah model regresi yang tidak melanggar tujuh asumsi klasik sebagaimana disyaratkan oleh studenmund (2006), yaitu (1) the regression model is linear, is correctly speciatied, and has an additive error term, (2) the error term has a zero population mean, (3) all explanatory variables are uncorrelated with the error term, (4) observation of the error term are uncorrelated with each other (no serial correalation), (5) the error term has an costan variance (no heterokedasticity), (6) no explanatory variable is aperfect linear function of any other explanatory variable. (7) the error term is normally distributed (this assumption is optional but usually is invoked).
Penguji serempak (uji F)

            Uji F menguji pengaruh serempak variabel-variabel bebas terhadap rentabilitas ekonomi di koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit di kecamatan buleleng.
Uji parsial (uji t)

            Uji t diguanakan untuk menentukan pengaruh parsial variabel-variabel bebas (x) terhadap variabel terikat (y). Pengujian dilakukan deangan cara membadingkan p-value uji t denagn tafar signifikansi 5 persen.

                           
Nama/NPM  : Nurul Rochmah/25211402
 Kelas/tahun :2EB09/2012

Review 1: ABSTRACT DAN PENDAHULUAN


PENGARUH VARIABEL ASET LANCAR, DEBT TO TOTAL ASSETS, UMUR,  DAN JUMLAH ANGGOTA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN KOPERASI KREDIT  DI KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG: SEBUAH PEMODELAN EKONOMETRIKA

Putu Agus Ardiana  Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Luh Kartini Eka Sari  Jurusan Akuntansi,  Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

BAB I PENDAHULUAN

1.1  ABSTRACT

This paper aims to investigate independent variables affecting profitability of cooperatives in Buleleng, Bali proxied by a ratio of earnings and total assets through an econometric modeling.We   initially identified 18 variables affecting the ratio but we then dropped a number of independent variables insignificantly affecting the ratio. Conducting 15 modelling,  the last econometric model is   a BLUE (Best Linear Unbiased Estimators)model implying that the model has no classical assumptions  problems at all. The BLUE model suggests that independent variables affecting profitability of cooperatives in Buleleng, Bali are curren assets, debt to total assets, age and the number of  member of cooperatives.

Keywords : Cooperatives, Profitability, Current Assets, Debt to Total Assets, Age, and The Number of Members of Cooperatives

1.2.  PENDAHULUAN

Salah satu masalah makroekonomi yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah masih banyaknya      penduduk miskin.  Penduduk  miskin adalah penduduk yang mengkonsumsi kalori kurang dari 2.100 per kapita dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar (Panggabean,2004). Data     Badan Pusat Statistik (BPS, 2010) menunjukkan bahwa jumlah 1 penduduk miskin sampai dengan Maret 2009 mencapai 32,53 juta, 36,61% di antaranya (11,91   juta orang) tinggal di perkotaan dan 63,39% (20,62 juta orang) tinggal di pedesaan. Di sisi lain   tingkat pengangguran terbuka juga masih tinggi, yaitu mencapai 9,26  juta per Februari 2009. Data ini menunjukkan bahwa semua sektor kekuatan ekonomi termasuk koperasi belum berperan melaksanakan fungsi dan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan, mempertinggi kualitas  kehidupan, serta memperkokoh perekonomian rakyat secara bersama melalui wadah koperasi. Jumlah koperasi pada tahun 1997 adalah 52.458 unit, sedangkan pada tahun 2009 per Juni  meningkat menjadi 166.155 unit. Dari 52.458 unit koperasi pada tahun 1997, 32.900 unit merupakan koperasi aktif dan 13.258 unit merupakan koperasi tidak aktif. Sebaliknya, yang terjadi per Juni 2009 adalah 118.616 unit dari 166.155 unit merupakan koperasi aktif dan 47.539 unit merupakan koperasi tidak aktif. Selain jumlah koperasi yang meningkat, jumlah anggota juga mengalami  peningkatan  sebesar 8.698.61 3orang. Demikian pula dengan volume usaha yangmeningkat dari Rp14.643.545,00 pada tahun 1997 menjadi Rp55.260.796,96 per Juni 2009. Rentabilitas   suatu  entitas menunjukkan  perbandingan antara  laba dengan aset atau modal yang menghasilkan laba tersebut (Riyanto,2001). Rasio rentabilitas lebih informatif daripada laba yang dilaporkan karena rasio rentabilitas menunjukkan tingkat efisiensi (sekaligus produktivitas) suatu entitas. Entitas dengan tingkat efisiensi (dan produktivitas) yang tinggi diindikasikan dengan lebih banyak output yang dihasilkan dari  input tertentu atau lebih sedikit input yang digunakan untuk menghasilkan output tertentu (Guan,  Hansen, dan Mowen, 2009). 

Dengan demikian,  maka yang harus diperhatikan oleh koperasi adalah memberdayakan aset yang terbatas untuk mencapai sisa hasil usaha (SHU) yang maksimal. Semakin tinggi tingkat rentabilitas   suatu entitas maka semakin tinggi tingkat efisiensi penggunaan modalnya. Dalam penentuan kebijakan modal kerja yang efisien, entitas dihadapkan pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas (Van Horne, 1997). Jika entitas memutuskan  menetapkan  modal  kerja dalam jumlah  yang besar, kemungkinan  tingkat  likuditas   akan terjaga. Namun, kesempatan untuk memperoleh laba yang besar akan menurun yang pada    akhirnya akan berdampak terhadap penurunan profitabilitas. Jika dipandang dari sudut pemilik     entitas, likuiditas yang tinggi  tidak selalu menguntungkan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek       yang menguntungkan entitas (Tunggal, 1995). Struktur aset sangat berpengaruh terhadap     besarnya laba yang dihasilkan. Apabila proporsi aset terbesar  adalah piutang dari penyaluran kredit, maka piutang dari penyaluran kredit (kategori lancar atau performing loans)akan meningkatkan pendapatan  yang  diterima entitas karena performin loans ini merupakan income-generating asset dalambentuk pendapatan bunga (Wild, Subramanyam, dan Halsey, 2007). Dengan kata lain, semakin besar proporsi piutang dari penyaluran kredit yang dilakukan koperasi maka pendapatan koperasisemakin meningkat dan  menyebabkan peningkatan  laba yang   dihasilkan. Peningkatan laba ini akan   meningkatkan rentabilitas ekonomi koperasi. Menurut Brigham dan   Houston   (2004),   tingkat   leverage   operasi   yang tinggi memiliki konsekuensi bahwa perubahan pendapatan dalam jumlah yang relatif  kecil akan mengakibatkan perubahan   yang   besar dalam profitabilitas. Entitas yang meningkatkan utangnya akan mengkonsentrasikan risiko bisnisnya kepada para   pemilik sehingga terdapat hubungan yang positif antara  leverage dan profitabilitas. Teori yang diungkapkan oleh Brigham dan Houston (2004) tersebut dilengkapi oleh Jensen (1986). 

Menurut Jensen (1986),utang memainkan peran penting dalam memotivasi manajer untuk meningkatkan         efisiensi organisasi dan rasio  utang  yang optimal diperoleh ketika tambahan manfaat (marginal benefit) dari utang tersebut sama dengan tambahan biayanya (marginal cost). Pada   range  tertentu, yaitu pada saat marginal  benefit lebih besar daripada marginal cost, profitabilitas meningkat sampai       titik  tertentu seiring dengan meningkatnya utang. Akan tetapi,profitabilitas menurun seiring dengan meningkatnya utang pada saat marginal cost lebih besar daripada marginal benefit.Umur entitas    merupakan ukuran lamanya suatu  entitas  tersebut beroperasi. Lamanya entitas beroperasi terkait    dengan pengalaman yang dimiliki oleh entitas tersebut. Semakin banyak pengalaman  yang dimiliki berpengaruh terhadap kinerja entitas dalam melaksanakan aktivitasnya. Menurut Ebbinghaus (1885) dalam Weiss (1990), semakin tua usia atau umur 4 entitas maka efisiensi   dalam   melakukan   suatu aktivitas semakin  meningkat yang pada akhirnya meningkatkan profitabilitas entitas tersebut. Rentabilitas ekonomi  merupakan salah satu proksi  dari  profitabilitas (Husnan dan Pudjiastuti, 2002). Dengan demikian, semakin lama koperasi beroperasi maka koperasi diharapkan semakin efisien dalam melaksanakan aktivitas sehingga semakin meningkatkan rentabilitas ekonominya. Menurut Maury dan pajuste (2004), untuk entitas yang bersifat tertututp (family-controlled firms) dengan karakteristik (1) pemilik mayoritas entitas memiliki  hubungan keluarga, (2) jumlah suara terdistribusi merata di antara pemilik mayoritas, dan (3)pemilik minoritas tidak memiliki kekuatan monitoring kepada pemilik mayoritas maka terdapat hubungan yang  positif antara   jumlah   pemilik   dan   nilai   entitas   (the   firm’s   value).   Peningkatan   nilai entitas   (the   firm’s   value)   tercermin   pada peningkatan kesejahteraan pemilik (the owner’s wealth) (Ross, Westerfield,  Jaffe, Jordan,     2008). Peningkatan kesejahteraan pemilik terjadi pada saat modal akhir lebih besar daripada modal      awal akibat  dari peningkatan laba yang diperoleh.Dalamkonteks koperasi anggota merupakan          pemilik koperasi, operasinya bersifat kekeluargaan, dan jumlah suaranya   terdistribusi   merata   di   antara   anggota sehingga teori yang diungkapkan  oleh Maury dan Pajuste (2004) dapat di terapkan koperasi, semakin banyak anggota koperasi maka nilai koperasi semakin meningkat. Peningkatan nilai koperasi ini tercemin pada peningkatan sisa hasil usahanya (SHU).

Sebuah koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit melakukan kegiatan usaha dengan cara menghimpun dan menyalurkan dana kepada anggota  dan calon anggota. Dana yang terhimpun disalurkan kepada anggota dan calon anggota melalui penyaluran kredit untuk mencegah agar tidak  ada dana koperasi yang mengaggur (idle fund) dan tidak produktif yang berimplikasi pada penurunan tingkat rentabilitas.

Kabupaten Buleleng adalah kabupaten terluas di Propinsi Bali dengan luas daerah 1.365,88 km2 atau 24,25% dari luas pulau bali. Selain sebagai daerah yang terluas, kabupaten buleleng juga memiliki jumlah penduduk yang banyak, yaitu 575,038 jiwa (BPS Bali,2010). Kecamatan Buleleng merupakan kecamatan yang jumlah koperasinya paling banyak yaitu, sebanyak 171 koperasi. Dari 171 koperasi tersebut ,27 diantaranya merupakan koperasi simpan pinjam (KSP) dan 2 koperasi merupakan koperasi kredit.

Tinggi rendahnya rentabilitas ekonomi dipengaruhi oleh banyak varibel. Varibel penduga (independent variabels) yang terindentifikasi mempengaruhi rentabilitas ekonomi adalah aset lancar, rasio aset tetap dibagi untung jangka pangjang, rata-rata piutang setelah dikurangi cadangan kerugian piutang, pengumpulan piutang, profit margin, total assets turnover, total assets, total utang, utang lancar, ROI, umur, dan jumlah anggota. Dalam rangka menginvestigasi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap rentabilitas ekonomi maka perlu dirancang sebuah model ekonometrika berdasarkan independent variables yang teridentifikasi tersebut. Model ekonometrika yang    dimaksud  adalah model regresi dengan metode OLS (Ordinary Least Squares) yang bersifat BLUE (Best Liniear Unbiased Estimator). Mode regresi yang bersifat BLUE ini diperoleh apabila memenuhi      tujuh asumsi klasik yang disyaratkan oleh Studenmud (2006). Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui model ekonometrika rentabilitas ekonomi di  Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit di  Kecamatan Buleleng yang bersifat  BLUE,   (2)   mengetahui   pengaruh   serempak   variabel- variabel    bebas dari model ekonometrika yang BLUE tersebut  terhadap rentabilitas  ekonomi di  Koperasi    Simpan Pinjam  dan  Koperasi Kredit di Kecamatan Buleleng, dan (3)   mengetahui   pengaruh   parsial   variabel-variabel bebas dari model  ekonometrika  yang  BLUE tersebut terhadap  rentabilitas ekonomi  di  Koperasi  Simpan  Pinjam  dan  Koperasi Kredit  di  Kecamatan Buleleng.

Nama/NPM        : Nurul Rochmah/25211402
Kelas/tahun        :2EB09/2012